Sabda Binatang Laut

Aku bicara, tapi hanya seperti burung berkicau dari dalam sangkar.
Aku bisa saja diam, seperti binatang laut di dalam air
yang tak terdengar suaranya namun bisa membunuh.

Jika yang engkau inginkan hanya aku tidak terdengar,
sungguhlah engkau salah. Karena tiada mungkin menghentikan kegaduhan tanpa menyelesaikan perkaranya.

Jika engkau menghitung bantuan yang telah kau berikan,
engkau tidak akan mendapat pahalamu.

Karena aku telah mendengar engkau menuduhkan yang buruk pada saudaramu yang lain, bukan berarti aku tak bisa mengira kau menuduhkan yang buruk pula padaku.

Sia-sialah ketulusan, karena engkau menyia-nyiakannya.
Kebaikan berceceran tak terhargai, karena engkau menyia-nyiakannya. Ingatlah engkau mungkin tidak bisa mendapatkan kembali apa yang telah engkau sia-siakan, berapapun engkau menginginkannya lagi nanti.

Perkataan mudah terlupa, tapi hati yang merasa tidak akan lupa. Aku bisa diam tak membuat kegaduhan, seperti binatang di laut yang tidak membunuhmu, melainkan meninggalkanmu menuju lautan lepas tanpa batas.

Cimahi, 2 Februari 2016

Advertisements

Pengalaman Apply Schengen Visa di Kedutaan Belanda, Ditolak atau Diterima?

Well…

Pasti sudah banyak banget penulis blog yang menceritakan pengalamannya apply schengen visa Eropa. Tapi buat kalian semua yang  masih penasaran berikut ini pengalaman saya apply schengen visa di Kedutaan Belanda…

Banyak yang bilang apply schengen visa gampang, ada yang bilang susah, buat saya sendiri apply visa ini gak segampang yang dibayangkan, bukannya saya nakut-nakutin.. tapi karena saya punya beberapa kondisi yang mungkin berbeda sama orang lain.. Nah, siapa tahu beberapa dari kalian ada yang punya kondisi seperti saya.

 

  1. Saya ibu rumah tangga, tidak punya pekerjaan tetap. Saya tidak punya slip gaji.
  2. Suami saya wiraswasta. SIUP perusahaan suami saya belum selesai diperpanjang.
  3. Saya dan suami belum punya kartu keluarga.
  4. Paspor saya dan suami masih blank, belum ada cap negara manapun.
  5. Tabungan saya dan suami tidak terlalu stabil.
  6. Saya apply schengen visa baru 3 minggu sebelum keberangkatan

 

Dengan segala ‘keunikan’ kondisi saya itu saya tetap melaju percaya diri apply schengen visa ke kedutaan Belanda. Mengapa ke Kedutaan Belanda? Karena tiket saya Kuala Lumpur – Amsterdam – Amsterdam – Kuala Lumpur. Jadi sesuai saran dari website kedutaan dan travel blog sebaiknya saya apply ke negara yang pertama dituju dan paling lama dikunjungi

Kronologisnya kira-kira begini:

Bulan September 2015 saya beli tiket, tiket dibeli karena harganya kala itu cukup terjangkau USD 1005 untuk 2 orang pulang pergi (Turkish Airlines) keberangkatan bulan Februari 2016. Kalau dirupiahkan sekitar 15jt berdua. Saya pikir itu udah murah banget, ternyata bulan depannya konon ada tiket Etihad Kuala Lumpur – Amsterdam – Milan – Jakarta total 20juta rupiah untuk 4 orang.

Saat itu pasport saya dan suami sudah kaluarsa, maka bulan Oktober 2015 kami perpanjang paspor. Proses perpanjangan paspor saya cukup mulus, 3 hari pun selesai. Sedangkan proses perpanjang paspor suami agak ‘menantang’. Nama suami saya di Kartu Keluarganya berbeda dengan nama di Akta Kelahiran. Gara-gara itu, hari pertama datang ke kantor imigrasi suami saya disuru pulang lagi dan kembali dengan membawa surat keterangan dari Kelurahan-Kecamatan bahwa nama yang tertera di Kartu Keluarga dan Akter Kelahiran adalah orang yang sama. Sekitar satu minggu saya wara wiri dari RT ke RW ke Kelurahan dan ke Kecamatan, sampai akhirnya surat yang dimaksud saya dapatkan. Dengan surat itu suami saya mengajukan kembali pembuatan paspornya dan selesai dalam waktu 3 hari.

Pada awal bulan Oktober sebenarnya keuangan kami belum mencukupi syarat. Karena suami saya adalah wiraswastawan,  uang yang masuk itu tidak seperti pegawai kantoran yang pasti masuk pada tanggal yang sama dengan jumlah yang sama. Terkadang uang datang awal bulan, kadang akhir bulan, jumlahnya pun bisa banyak, bisa banyak banget, bisa juga sedikit. Akhir bulan Oktoberlah baru saya mengisi tabungan suami sebanyak 50juta. Masalah tabungan ini harus dipersiapkan dengan teliti. Jika saya akan berangkat bulan Februari, dengan syarat tabungan 3 bulan terakhir maka saya harus siapkan tabungan dari bulan November , Desember, Januari, dan Januari baru apply visanya. Kalau saya mau apply visa bulan Desember maka yang harus disiapkan tabungan bulan Oktober, November, Desember. Sedangkan awal Oktober uang saya belum ada, ini juga jadi alasan mengapa saya apply visa akhir Januari 2016.

Tadinya, karena saya mau apply sebagai ibu rumah tangga saya berniat pakai buku tabungan suami. Tapi kesahan suami istri saya cuma sebatas surat / akta nikah, kami belum punya kartu keluarga sendiri. Karena tidak punya kartu keluarga, saya tidak bisa apply dengan kategori keluarga. Jadi kami apply dengan kategori individu.. Jika individu berarti buku tabungan pun masing-masing (begitu pemikiran saya). Maka segera pada bulan November tabungan 50 juta kami di split menjadi tabungan suami 30jt, tabungan saya 20juta.

Menurut website kedutaan uang yang harus disiapkan adalah 34 Euro dikali jumlah hari kita di Eropa,berarti sekitar 13 juta per orang. Sedangkan menurut beberapa blog, kalau bisa tabungannya jangan terlihat tiba-tiba gemuk. Mengikuti saran itu, jadi tabungan saya dan suami kami pakai saja secara normal, kadang saldonya berkurang 1 juta, kadang bertambah. Bahkan sempat saldo saya cuma 5 juta, saldo suami cuma 18 juta, tapi kami tambah lagi sesegera mungkin. Jadi fruktuatif tapi tetap cenderung bertambah (terlihat menabung).

Pertengahan bulan November saya bikin janji online untuk apply visa schengen ke Kedutaan Belanda. Karena masalah Kartu Keluarga yang tadi saya ceritakan, saya pilih kategori individu. Bulan Oktober, November saya manfaatkan untuk menyiapkan rute perjalanan dan bookingan hotel.

Bulan Desember saya apply visa Turki Online, hal itu saya lakukan karena ada transit 1 malam di Turki. Sampai akhir Desember hampir semua persyaratan saya sudah lengkapi, mulai dari tabungan yang masih kami jaga kestabilannya, bookingan hotel, visa Turki, FYI saya malah udah beli tiket pesawat antar negara (PD aja sih visanya diapprove, kalau gagal ya merugi).

Awal bulan Januari saya dan suami mengurus SIUP perusahaan, ini bukannya sengaja ngurusnya mepet. Ceritanya suami saya tadinya PD mau bawa Akta Pendirian perusahaan yang tertera nama suami saya sebagai pemiliknya, ternyata sepertinya tidak bisa karena yang diminta SIUP alias yang poin nya adalah surat ijin, bukan surat kepemilikan perusahaan. Kembalilah saya sibuk ke Pak RT-Pak RW-Kepala Desa-Kecamatan-Kelurahan mengurus SIUP. Malangnya SIUP baru bisa jadi 3 bulan. Yang bisa dimiliki hanya surat ijin gangguan (HO) dan resi yang menunjukan bahwa SIUP sedang diperpanjang.

Tanggal 11 Januari saya print rekening koran tabungan saya dan suami dari bulan November – 11 Januari . Sekalian minta surat rekomendasi bank yang ada tulisan saldonya. Sebenernya itu pun kalau dihitung gak pas 3 bulan seperti syarat yang diminta kedutaan.

Tanggal 19 Januari saya dan suami berangkat ke Kedutaan Belanda di Jakarta. Dari Bandung jam 4.30 pagi untuk janji jam 08.00. Final surat yang kami bawa masing-masing (map terpisah, bukti perjanjian masing-masing, form masing-masing, surat-surat pun masing-masing).

Map saya berisi: Paspor (yang sayangnya bener-bener belum ada cap negara manapun), Surat perjanjian, Formulir aplikasi, Tiket Pesawat, Bukti keuangan bulan November 2015 – 11 Januari 2016 (saldo akhir 34jt),surat rekomendasi bank, foto copy halaman 1 buku tabungan, asuransi perjalanan dari Lippo dengan nilai pertanggungan USD 35.000, bookingan hotel yang tertera nama saya dan nama suami saya, akta pernikahan, dan kartu keluarga saya. (Saya tidak membuat surat keterangan ibu rumah tangga yang biasanya bertuliskan bahwa suami saya akan memnbiayai perjalanan saya karena: suami saya ikut pergi sama saya dan tabungan saya sendiri cukup tidak perlu dibiayai suami).

Map suami saya berisi: Paspor (yang sayangnya bener-bener belum ada cap negara manapun), Surat perjanjian, Formulir aplikasi, Tiket Pesawat, Bukti keuangan bulan November 2015 – 11 Januari 2016 (saldo akhir 36jt), surat rekomendasi bank, foto copy halaman 1 buku tabungan, asuransi perjalanan dari Lippo dengan nilai pertanggungan USD 35.000, bookingan hotel yang tertera nama suami saya dan nama saya, akta pernikahan, dan kartu keluarga suami saya, SIUP lama (berlaku sampai tahun 2008), HO lama, HO baru, Resi perpanjangan SIUP baru.

Dan beberapa lembar hal lain yang diberikan oleh pihak Kedutaan.

Tanggal 19 Januari, jam 8 pagi di Kedutaan Besar Belanda kami mengikuti semua prosedur yang diharuskan. Sampai saat nomor kami dipanggil, saya kira akan dipanggil masing-masing karena apply individu, ternyata dipanggil langsung barengan tapi suratnya dicek terpisah (masing-masing). Puji Tuhan pegawainya yang memeriksa berkas orang Indonesia semua, dan yang menangani kami mba-mba masih muda dan sangat ramah. Surat kami masing-masing diperiksa. Pertanyaan yang diajukan hanya keperluannya mau apa, kami jawab liburan. Setelah itu semua dokumen kami diterima tanpa kurang satu apapun. Sungguh ga ditanya macam-macam, dan ga diminta macam-macam <Loket sebelah diminta foto ulang 😦 >. Setelah berkas selesai diperiksa langsung kami scan sidik jari dan dipandu ke loket lain untuk bayar. Tidak sampai 20 menit penyerahan dokumen dan proses bayar, apply visa pun selesai. Baru apply nya aja loh ya.. belum tau disetujui apa enggak…

Yang saya baca-baca dari travel blog, apply schengen visa di kedutaan Belanda hanya 1 hari saja selesai, bahkan ada yang jam 1 siang hari itu juga langsung selesai. Hari itu semua pemohon diberi tanggal 26 Januari untuk pengambilan, alias 1 minggu. Deg-degan pun berlanjut 1 minggu. Mau ngomong apa lagi, segala usaha telah dicoba, segala syarat telah dipenuhi sisanya hanya bisa berdoa mohon Tuhan merestui perjalanan ini.

Tanggal 26 Januari pun tiba, setelah satu minggu kami menunggu dengan nervous (mengingat surat-surat kami yang ‘unik’). Kami berangkat ke Jakarta, di jalan saya tidak berhenti berdoa (padahal apapun yang terjadi sudah tidak bisa diubah lagi kan?) tapi hanya itu yang bisa dilakukan untuk menenangkan diri. Sampai di kedutaan Belanda, tepat jam 14.30 kami dipersilahkan masuk ke dalam kedutaan. Suami saya hanya diijinkan mengantar sampai depan pos karena menurut sekuriti takutnya kebanyakan orang masuk ke dalam jadi penuh saat di ruang tunggu. Saya pun masuk sendiri, sambil menunggu pikiran pun masih menghayal kemana-mana bagaimana kalau ditolak mana waktu udah mepet belum tentu bisa apply ke kedutaan lain, mana tiket udah dibeli, mana udah cerita ke beberapa temen dan lain lain pikiran horor lalu lalang. Selama menunggu di ruang yang sama seperti saat apply visa saya hanya nunduk terus sampai dipanggil.. Berdebar-debar gak karuan, untung jantung ini  buatan Tuhan kalau buatan Cina kayanya udah copot saking deg degan nya…. hehehehe

Jadi visanya di approve atau enggak???

APPROVE doonkkkk……  Siap ber valentine ria di Paris bulan depan.. cihuuy….

Kesimpulannya: Paspor perawan, tabungan naik turun naik, ibu rumah tangga, wiraswasta dengan SIUP sederhana, gak punya KK, atau visa baru daftar mepet tetep bisa apply schengen visa, mungkin saya mujur atau hoki atau apapun itu yang penting tetap berusaha, beritikat baik dan selalu berdoa. Amin…. Selamat mencoba ya teman-teman….kalau bisa memang jangan ‘unik’ seperti saya… kalau lebih lengkap, lebih tertib pasti deg degannya juga ga terlalu banyak 🙂

Pencarian dalam Sebuah Perjalanan

Every solo travellers have their own magic story, mine starts with 14 hours on the road from Bandung to Mesa Stila, Magelang.

Sejak hari Jumat sore aku sudah gelisah menanti mobil travel yang mengantarku menuju Semarang. Tujuan akhirku memang bukan ke Semarang, tapi mengikuti kelas travel writing di Hotel Mesa Stila, Desa Grabag Magelang. Sampai di Semarang rencananya aku akan bertemu dengan rombongan peserta lain dan berangkat ke Desa Grabag bersama – sama. Pukul delapan malam mobil yang tak kunjung tiba membuatku kian deg-degan karena perjalanan normal Bandung-Semarang akan memakan waktu delapan – sembilan jam, kalau tidak segera berangkat aku bisa terlambat. Ah, sudahlah pikirku untuk menenangkan hati, mobil itu pasti datang.

Pukul sembilan teleponku berdering di saluran lain Pak supir mengatakan bahwa Ia sudah sampai di depan kompleks. Aku bergegas mengemasi barang dan berpamitan pada suami serta anjing kesayanganku. Kali ini aku akan pergi sendiri, kuyakin perjalanan kali ini akan menambah pengalaman solo travelku.

Mobil yang membawaku menuju Semarang melaju dengan cepat. Semua tampak lancar – lancar saja, ya pada awalnya memang terlihat lancar, sampai kemacetan di daerah Tegal membuat perjalananku terhenti entah berapa lama. Tegal, Brebes, Pekalongan adalah kota-kota di sepanjang jalur Pantura yang akan dileaweti jika kita akan menuju Semarang. Kalau sampai di Tegal, artinya kita baru melewati setengah perjalanan. Mobil elf yang kutumpangi penuh dan hampir semua laki-laki, hanya aku yang perempuan dan seorang ibu yang duduk banguku depan.

Kusabarkan diriku, dalam hati kuberdoa “Ya Tuhan, tolong dong macetnya jangan lama-lama, kalau telat sampai Semarang aku bisa ketinggalan rombongan.” Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain dalam perjalananku hari ini. Dan magical moment itu pun dimulai.

Aku tertidur sepanjang malam, sampai sekitar pukul enam pagi aku terbangun dan betapa kagetnya mengetahui aku masih berada di daerah Batang yang berjarak sekitar 100 km lagi dari Semarang. Kalau begini ceritanya aku pasti terlambat, akupun segera mengabari panitia bahwa aku terlambat biar nanti aku menyusul saja naik kendaraan umum. Pukul 7. 43 aku menerima sms dari panita “Maaf ya Mba Citra, kami jalan duluan.” Yaah, aku menyerah itu artinya aku harus mengusahakan bagaimana cara mencapai Mesa Stila, Desa Grabag-Magelang, sendirian. Magic!

Sekitar pukul sembilan pagi mobil yang membawaku akhirnya sampai di Semarang, aku kuputuskan untuk turun di pinggir jalan tol dan mencari taksi sesuai arahan panitia. Dengan mudah kuhampiri taksi yang mangkal di pinggir jalan, setelah kami bernegosiasi akhirnya pak supir mau mengantarku ke Desa Grabag, Magelang Aku naik ke dalam taksi dan kami berangkat. Kami berdua sama-sama tidak tahu dimana Mesa Stila.

Karena aku pergi sendirian ke tempat yang belum terbiasa kudatangi, aku harus ekstra hati-hati. Kuperhatikan ID card yang terpasang di dashboard mobil, supir taksi itu bernama Gunawan Leonardo, waw namanya internasional sekali ya, tidak biasa seperti nama jawa pada umumnya. Terlihat wajah Pak Gunawan dari balik spion tengah, Pak Gunawan mungkin berusia sekitar 50 tahunan, beliau piawai sekali menyetirnya, bahkan dia sempat bertanya, “Mba sedang tergesa-gesa atau mau santai?” “Tergesa-gesa, Pak.” Jawabku tegas. Dan tanpa banyak bicara lagi Bapak yang kental sekali logat jawanya itu langsung tancap gas memasuki jalan tol Bawen. Mobil dan truck disusulnya satu per satu dengan lincah. Bagi kami berdua perjalanan ini merupakan pecarian, secara harafiah kami sama-sama mencari lokasi Mesa Stila.

Keluar tol, kami memasuki jalur Semarang – Magelang. Setelah hampir 10 km berkendara menuju selatan, kami sempat berhenti di pinggir jalan untuk menanyakan Mesa Stila pada warga sekitar. “Nda ono Mesa Stila, onone’ Lupita Stila… tempat’e londo-londo itu to’? Wis kelewat’e puter balik ae, belok kanan.. Kalau dari sini iso tapi jauh 10 kilo.” Begitu menurut tukang sapu jalan yang sempat kami tanya. Aku terkesan sekali warga di sekitar Desa Grabag ini sangat terbuka dan tidak segan memberi petunjuk jalan pada kami. Akhirnya setelah sempat mengambil salah belokan kami sampai di Mesa Stila sekitar pukul sebelas siang. Pak Gunawan mengantarku percis sampai dengan lobby hotel. Aku pamitan dengan Pak Gunawan, sungguh ajaib dan rejeki bertemu dengan beliau entah apa jadinya kalau aku bukan diantar dengan skill menyetirnya yang handal, mungkin aku makin kesiangan atau mungkin makin nyasar.

Sampai di Mesa Stila aku disambut dengan karyawan hotel yang sangat ramah dan pemandangan ‘jaw droping’ hamparan kebun hijau luas terurus berlatar belakang Gunung Andong. Bangunan receptionist-nya unik sekali, tebuat dari kayu-kayu dicat warna coklat muda. Dari papan informasi yang ada di sana aku tahu gedung receptionist ini bernama Mayong Terrace, gedung ini dipindahkan dari tempat asalnya menggunakan 40 truk dalam satu malam. Hampir tidak percaya aku akan belajar menulis di tempat seindah ini, kalau di sini bukan penulis pun bisa-bisa langsung mendapat inspirasi untuk menulis pikirku.

 

 

Jelas aku datang terlambat dan sudah ketinggalan sesi jalan-jalan meninjau kebun kopi, ah sungguh sayang aku tidak bisa ikut keliling hotel ini. Setidaknya aku masih datang tepat waktu untuk mengikuti materi travel writingnya.

Tak lama, para peserta lain kembali dari tur kebun kopi dan setelah sesi daftar ulang kelas pun dimulai. Suasana yang tenang di Mesa Stila dengan udaranya yang sejuk begitu mendukung pikiran untuk menyerap ilmu yang dibagikan dengan baik. Walapun duduk bersama para penulis yang sudah punya jam terbang tinggi di sini hampir-hampir membuatku minder, ingin kabur saja rasanya ke tempat Hammam spa di bawah alih-alih ikutan kelas.

Dari kelas pagi ini aku belajar, bahwa sebuah tempat didatangi beberapa kalipun pasti memiliki cerita yang berbeda, asalkan kita jeli melihatnya. Aku menyadari perjalanan soloku kali ini membuatku mencari dan menemukan bahwa seorang penulis melakukan perjalanan untuk menemukan jati dirinya. Aku bisa melihatnya dari tiap peserta yang hadir bersamaku hari ini, mereka penuh dengan antusiasme, passion, dan kegigihan untuk menyerap ilmu.

Perjalanan soloku kali ini sungguh kurasakan sangat magical karena dari pengalaman ini wawasanku terbuka, dan menjadi penulis perjalanan adalah pekerjaan yang bisa ditekuni. Kegelisahanku sejak Jumat malam, perjalanan 14 jam di jalan, sampai berpusing ria bersama Pak Gunawan semua terbayar. Kelelahan ini tidak sia-sia, aku semakin yakin untuk melakukan perjalanan solo lain berikutnya karena setiap perjalanan adalah pencarian dan pada setiap pencarian pasti hal-hal yang akan aku temukan. Menjadi penulis perjalanan adalah salah satunya.

 

Mesa Stila,

Magelang 19 Desember 2015

Semuanya Dimulai dari Sini

Trip ke Europe…  Bagi beberapa orang kedengarannya mungkin biasa saja, tapi tidak untuk saya.  Ini sebuah cita-cita, suatu hari saya pasti bisa mencapainya. Awal tahun 2015 sepertinya kesempatannya ada. Kebetulan Kakak saya yang kerja di sebuah perusahaan asing mendapatkan kesempatan untuk training ke Turki pada bulan Maret. Saya memang sudah cita-cita juga mau ke sana, karena bagi WNI ke Turki kan bebas visa. Rencana pun dibuat, tapi entah mengapa keuangan belum terlalu mendukung, jadi rencana pun tidak terlalu matang. Padahal lumayan kalau ikut Kakak saya ke Turki bisa nebeng fasiltas kantornya, hotel pun pasti berbintang dan gratis karena ditanggung kantor.

Dibalik rencana yang tidak matang, Kakak saya membawa angin segar, dia bilang nanti bulan Agustus dia akan ada training lagi ke Switzerland, sebaiknya saya ikutnya nanti pas ke sana aja biar sekalian ke Eropa. Saya sih setuju saja..  So saya mulai bikin rencana lagi. Uang tabungan hasil bisnis saya kecil-kecilan udah sanggup untuk membiayai rencana saya ini.

Tapi namanya manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.  Entah kenapa saya ingat suami saya, dia itu ga pernah ke mana-mana kalau bukan saya yang ngajak. Ga pernah bikin rencana untuk pergi kemana-mana, padahal dia suka jalan-jalan. Saya rasa dia kurang fasih dalam hal bikin rencana, jadi mentalnya agak supir gitu, kalau diajak mau tapi kalau suru nentuin dia bingung.

Di keluarganya dia yang paling ga pernah pergi ke luar negeri, ga pernah diajak pergi ke luar negeri, padahal keluarganya yang lain sudah sering bepergian ke mana-mana. Saya melihat kasian suami saya ini hanya kerja melulu, tapi ga pernah ada yang ingat sama dia. Maka saya memutuskan, sudahlah, saya ga akan pergi dulu, rencana saya pergi ke Europe saya pindah tangankan untuk suami saya saja.

Saya bilang sama dia, saya punya uang nih uangnya untuk kamu pergi ke Eurpe, sendiri aja ya karena uangnya cukup untuk 1 orang saja.. Kamu harus cobain ke Eropa, cobain jalan-jalan dan belajar di sana..pasti bisa memperluas wawasanmu, menambah pengalaman dan kepintaran, apalagi kamu kan designer, di sana bisa dapat banyak referensi.  Kamu ga pernah nyobain menikmati solo traveling, ya inilah saatnya. Pilih aja mau tanggal berapa langsung aku belikan tiket dan sebagainya.. Insya Allah uangnya cukup untukmu.

Maka rencana pun berubah drastis.. Saya dedikasikan perjalanan ini untuk suami saya. Saya ikhlas, suami saya memang pantas mendapatkannya. Kalau bukan saya yang melakukan untuknya, siapa lagi yang mau?

Dalam doa saya, saya cuma minta sama Tuhan supaya bisnis saya dilancarkan, dikasih rejeki yang cukup supaya saya bisa kirim suami ke Eropa. Kalau memang rencanaku ini sesuai dengan rencanaMu ya Tuhan, mudahkanlah, restuilah melalui rezeki yang Kau berikan pada kami.

Sejak saya mendedikasikan segenap pikiran dan usaha saya untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri, saya tak sangka semuanya jadi lebih lancar. Doa saya didengar Tuhan… Proyek-proyek berdatangan, dari yang kecil sampai yang besar.. Tak henti-hentinya saya bersyukur, dalam hati saya bilang ini meman rejeki suamiku, Tuhan memakai saya sebagai sarananya. Memang Tuhan sangat baik, akhirnya kami mampu beli tiket untuk kami berdua berangkat ke Europe.

Maka begitulah semua itu dimulai, walaupun persiapan kami masih panjang dan bisa saja gak jadi (amit amiiitt ktok ktok meja), saya cuma berpegang pada satu iman bahwa kalau ini semua sesuai rencana Tuhan pasti dibukakan jalan, asalkan kami tetap berusaha dan berdoa. Tuhan sudah membawa kami sejauh ini, pasti ada maksudnya dan pastilah indah semuanya.

Satu hal yang saya pelajari, saat kita tidak memikirkan diri sendiri, mededikasikan untuk orang lain tanpa takut kita senidiri merasa kekurangan disitulah justru kita ada mendapatkan apa yang  kita inginkan. Tuhan mungkin telah menjadikan saya saluran berkat untuk suami saya, dan saya akan menjalaninya, tapi saya yakin kok di sisi lain Tuhan sudah mengutus orang lain untuk menjadi saluran berkat untuk saya, saya tidak akan kekurangan.

Amin

Cimahi, 25 November 2015

 

 

Off to Yogyakarta, oh Like Finally..!!

Yippiee..

We finally have verdict decision! Off to Yogyakarta on 22nd November 2015. It’s been so long after our last time visited Yogya. Yogya is so memorable to us. The city it self runs slower then Bandung or Jakarta. Everything is cheap and people are friendly. Many cultural site such as Borobudur Temple, Prambanan Temple, Taman Sari, Sultan Palace. Also cultural village such Desa Tembi, Desa Kasongan. Almost forgot mentioning Indrayani Beach, Gua Pindul, Kalibiru, Merapi Tour.. oohh I just can get enough of Yogya.

But the most important place to us is a Church in Ganjuran, Bantul. It’s Catholic church with Jesus statue inside a human made temple. Many people come to pray, include us..

For this time we found a partner. so it’ll be four of us (double date kind of trip). We plan to visit many places that we’ve never been before..

Merepi Tour

Leather Village

Kalibiru

It’ll be 4 days and 3 nights trip. We will start driving from Bandung along north coast (Pantura) via Tol Cipali, the new highway road. We will go have some fun and easy adventure, shopping, and definitely EAT!

Yogyakarta always stays in our heart and calling us to come back..

This link for more info:

https://indonesia.tripcanvas.co/jogja/things-to-do-in-yogyakarta/

xx

Citra

Oh..Where to Go?

So, my sister send me this… very cheeeeeaapp ticket offering.. How tempting.. and heartbreaking.

AgI4YztNvW2GTzjVf8jk4BNFb3L3aGHQMqfofDu0Bjbr

Well,  I thought my tickets were the cheapest… us$ 1.000 KL – AMS  – KL for two person by Turkish Airlines.. But that one…aargggg!!

Once the ticket in your hands, now what? Where to go? Should we go ambitiously for different city every night? or stay 2-4 nights at 1 city have quality time to live like local? Finally finish my itinerary…

9 Feb Jakarta – Kuala Lumpur

9 Feb Kuala Lumpur – Istanbul

9 Feb Istanbul – Amsterdam

10 Feb Amsterdam – Paris

11 Feb Paris

12 Feb Paris

13 Feb Paris – Lourdes

14 Feb Lourdes

15 Feb Lourdes – Barcelona

16 Feb Barcelona

17 Feb Barcelona – Rome

18 Feb Rome – Vatican

19 Feb Rome – Tuscany – Pisa

20 Feb North Italy

21 Feb Milan – Eindoven

22 Feb Amsterdam

23 Feb Amsterdam

23 Feb Amsterdam – Istanbul

24 Feb Istanbul – KL

 

But different couple different taste so itinerary should really depends on your purpose of your travel.. For us remember that this is our first time to Europe, we want to visit as many cities as we can. And we have dream to drive along Tuscany scenery so we put it on our list.. small and charming villages will be our preference.

xx

Citra

Budget or Affordable Hotel in Europe

We don’t event got the visa yet, so this is maybe to soon… But see how big effort we’ll make..

So this is about budget or Affordable Hotel in Europe. We found out Generator Chain Hotel.

  1. The Generator group, a trendy budget hotel and hostel chain that operates locations from London to Berlin, has recently made news with the opening of its giant, 920-bed hotel. Coinciding with a falling euro, the hotel offers a great new option for Paris-bound budget travelers. source:http://www.eurocheapo.com/blog/generator-hostel-comes-to-paris-with-rooms-as-low-as-e57.html

Another crazy things:

I made three ‘Free Cancel – Pay Later’ booking via Bookings.com . One room in Bormio Italy, Rome, and Lourdes… Aaah! I gave you ‘leek’ of the cities we’ll visit.  Free Cancel – Pay Later means I can choose the rooms and make a reservation but if something happen or if I change the plan, I can cancel the room without paying any. Also the reservation is made without downpayment, I can pay when I arrive. Sooo FUN!!! 🙂 but my husband somehow kinda worry, He thinks that I make it too far… yeaah, he might right, but it still FUN anyway.. ;p relaaax, babe…

Will update this topic anytime soon 🙂

xx

citra